Kalau Allah menghendaki, bisa saja Allah memberi petunjuk kepada
manusia secara langsung. Akan tetapi untuk suatu hikmah yang
dikehendaki-Nya, Allah mengutus para rasul dengan tugas-tugas yang telah
ditentukan. Tugas Rasul secara umum sebagaimana termaktub dalam
al-Qur’an adalah mengemban risalah dakwah dan menegakkan diinullah.
Sabtu, 15 November 2014
Posted by Ahmad Ihsan on 08.28
Sifat-sifat utama Nabi Muhammad SAW yang patut diteladani
“Tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam.” (Quran s. al- Anbiya : 107)
Peribadi Nabi Muhammad
s.a.w. sungguh menarik hati seluruh manusia yang mengakui kebenaran,
keperibadian Rasulallah jelas diterangkan dalam al-Quran antaranya Allah
berfirman yang bermaksud:
Posted by Ahmad Ihsan on 08.23
Dari segi bahasa, rasul berasal dari kata ‘rasala’ yang berarti
mengutus. Sedangkar rasul, adalah bentuk infinitif (baca; masdar) dari
kata ‘rasala’ ini
berarti utusan, atau seseorang yang diutus. Adapun dari segi istilahnya rasul adalah:
berarti utusan, atau seseorang yang diutus. Adapun dari segi istilahnya rasul adalah:
الرَّجُلُ الْمُصْطَفَي الْمُرْسَلُ مِنَ اللهِ بِالرِّسَالَةِ إِلَى النَّاسِ
Posted by Ahmad Ihsan on 08.16
Allah
SWT telah menciptakan alam ini dengan system yang menyeluruh. Satu sama
lain saling berkaitan dan masing-masing mempunyai manfaat yang berbeda.
Allah yang menciptakan alam ini, sehingga Maha Mengetahui segala
sesuatu dari yang paling kecil hingga yang amat sangat besar. Karena itu
Allah menjadi sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Allah sebagai
Al ‘Aliim terhadap sumua jenis ilmu, tidak hanya tentang
ilmu agama melainkan semua ilmu yang ada dimuka bumi baik yang ghoib
maupun yang nyata, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al
Hasyr ayat 22: “Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang. “
Rabu, 12 November 2014
Posted by Ahmad Ihsan on 20.11
Kalau kita cermati al-Qur’an dan as-Sunnah, akan kita dapati
nash-nash yang menyatakan bahwa ada beberapa hal yang membatalkan
syahadat yang telah diucapkan. Hal ini karena syahadat menuntut adanya
konsekuensi dan komitmen. Syahadat baru benar dan dapat diterima apabila
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Langganan:
Postingan (Atom)